Tahuna, BAROMETERSULUT.com— Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-168 GMIST Sion Sawang Jauh tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang pelayanan jemaat. Di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Awu, perayaan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian terhadap kondisi daerah.
Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Tendris Bulahari, saat menghadiri ibadah syukur HUT ke-168 GMIST Sion Sawang Jauh, Resort Tahuna, Jumat (18/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Bulahari mengajak jemaat untuk tidak memandang usia 168 tahun hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai warisan iman dan pelayanan yang harus diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, secara pribadi dan keluarga, serta Bupati dan keluarga, kami menyampaikan selamat HUT ke-168 kepada seluruh jemaat GMIST Sion Sawang Jauh,” ujar Bulahari.
Menurutnya, perjalanan selama 168 tahun telah melewati berbagai fase, mulai dari sukacita hingga pergumulan. Karena itu, generasi saat ini perlu mengambil nilai keteladanan dari para pendahulu yang telah mempertahankan kehidupan pelayanan dari masa ke masa.
“Ini bukan perjalanan yang singkat. Dalam perjalanan yang panjang itu tentu ada sukacita dan pergumulan, ada keberhasilan dan tantangan. Namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang selalu bersyukur,” katanya.
Bulahari berharap perjalanan panjang tersebut dapat semakin memperkokoh kehidupan jemaat, baik dalam iman, persekutuan maupun pelayanan sosial di tengah masyarakat.
“Dari zaman oma dan opa sampai sekarang, bahkan zaman anak cucu di kemudian hari, saya berharap jemaat semakin dewasa dalam iman, semakin kuat dalam persekutuan, semakin giat dalam pelayanan dan semakin nyata dalam memberikan kesaksian di tengah masyarakat,” tuturnya.
Selain berbicara mengenai perjalanan pelayanan jemaat, Bulahari turut menyinggung kondisi Sangihe yang tengah menghadapi kekeringan serta Karhutla di kawasan Gunung Awu.
Ia menyebut penanganan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan TNI-Polri, relawan dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
Menurutnya, situasi yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga Sangihe sebagai rumah bersama.
“Hal ini mengingatkan kita bahwa Sangihe adalah rumah kita bersama yang harus dijaga oleh kita semua. Pada dasarnya pemerintah membutuhkan masyarakat, begitu pula masyarakat membutuhkan pemerintah,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk terus membangun kepedulian, saling menopang dan menjaga satu sama lain, terutama ketika daerah sedang menghadapi situasi sulit.
Dengan demikian, usia 168 tahun GMIST Sion Sawang Jauh tidak hanya menjadi cerita tentang panjangnya sejarah sebuah jemaat, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan dalam menghadapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa warisan pelayanan lintas generasi bukan hanya dipelihara melalui ibadah dan persekutuan, tetapi juga melalui kepedulian nyata terhadap sesama dan lingkungan tempat kehidupan bersama berlangsung.







