BITUNG,Barometersulut.com – Buntut dari ajang pemilihan putra putri SMA 2 Bitung (SMABIT), 2 orang siswa atau peserta yang mengikuti ajang tersebut merasa malu untuk hadir di lingkungan sekolah.
Perasaan malu tersebut dirasakan oleh salah satu peserta yang nomor punggungnya disebutkan untuk melaju ke babak 5 besar, namun nama orang lain yang disebutkan, hingga membuat perasaan anak tersebut malu. Dan menjadi pertanyaan besar dari keluarga hingga menimbulkan kecurigaan.
Sementara itu nama yang disebutkan untuk masuk ke babak lima besar juga ikut merasa malu, karena menyebutkan bahwa pihaknya diduga bermain mata, atau ada KKN dengan para dewan juri atau panitia pelaksana. Dengan adanya isu tersebut dirinya merasa malu untuk hadir di lingkungan sekolah.
Namun pihak panitia pelaksana sudah membantah akan adanya dugaan KKN dalam kegiatan tersebut, serta sudah memberikan klarifikasi akan dugaan tersebut.
Kepala sekolah SMA Negeri 2 Bitung, Maxi Awondatu, M.Pd saat dikonfirmasi oleh wartawan terkait penanganan akan hal tersebut mengaku sudah melakukan pertemuan dengan keluarga yang merasa keberatan,
“Kami pihak sekolah sudah memanggil orang tua siswa atau peserta yang keberatan, para panitia, dewan juri serta MC untuk menyelesaikan permasalahan ini,” kata Maxi.
Maxi juga menjelaskan permasalahannya sudah selesai dan dimediasi oleh pihak sekolah pada hari Senin 19 April 2026,
“Jadi orang tua siswa yang merasa keberatan sudah dipertemukan dengan panitia, juri, MC dan sudah memahami apa yang dijelaskan panitia dan dewan juri terkait metode penilaian, serta penjelasan dari MC yang mengakui salah dalam pembacaan yang menimbulkan pertanyaan serta dugaan konspirasi,” jelasnya.
Saya selaku penanggung jawab dalam kegiatan tersebut tentunya berharap kedepan tidak lagi terjadi hal-hal seperti ini,
“Semoga kedepan setiap kegiatan tidak terjadi hal-hal seperti ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman atau perasaan curiga antar sesama peserta atau lainnya,” tutup Maxi.
(RoMo)







