SITARO,Barometersulut.com – Keluhan masyarakat terkait kelangkaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite kembali memuncak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), khususnya di wilayah Kepulauan Tagulandang. Warga mengeluhkan harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan jatah bensin untuk kendaraan roda dua, sementara agen diduga memprioritaskan pembeli dengan galon berukuran besar dan para penampung.
Keluhan ini disampaikan sejumlah warga kepada wartawan, Sabtu (08/08/2026). Mereka menyayangkan praktik di lapangan yang dinilai tidak adil bagi pengguna harian,
“Kami harus antri berjam-jam untuk mendapatkan BBM mengisi kendaraan roda dua, namun pihak agen lebih mendahulukan antrian galon dengan jumlah yang besar,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dampak dari prioritas distribusi yang tidak merata ini terasa hingga ke harga eceran di pasaran. Warga melaporkan bahwa ketika kapal tanker BBM terlambat sandar akibat kerusakan mesin beberapa hari lalu, para penampung memanfaatkan kelangkaan tersebut dengan menaikkan harga jual eceran dalam botol menjadi Rp25.000 per botol—yang volumenya bahkan tidak mencapai satu liter.
“Di agen sudah menjualnya kepada para penampung dengan jumlah besar, sehingga masyarakat yang hanya membeli untuk kebutuhan kendaraan pribadi hanya mendapat jatah sedikit,” keluh mereka.
Ironisnya, meski agen resmi telah menutup operasional sejak sore hari, warga masih melihat kendaraan roda empat bermuatan galon berisi BBM lalu lalang hingga malam hari. Fenomena ini mengindikasikan kuat adanya aktivitas distribusi non-resmi atau penimbunan yang dilakukan setelah jam operasional berakhir.
Wartawan telah berupaya mengonfirmasi JG alias Opo, selaku pemilik/penanggungjawab Agen Pendistribusian BBM yang terletak di Kelurahan Bahoi, Kecamatan Tagulandang. Namun, hingga berita ini diturunkan, pemilik agen tersebut belum dapat dimintai keterangan terkait dugaan ketidakadilan distribusi dan penimbunan.
Menyikapi kondisi ini, warga mendesak Kapolsek Tagulandang Iptu Rexi Misa untuk segera melakukan sidak atau peninjauan langsung ke lokasi agen BBM. Tujuannya adalah memastikan distribusi berjalan merata dan mencegah praktik penimbunan yang merugikan masyarakat kecil.
Warga bahkan memberikan ultimatum tegas terkait responsivitas aparat. “Jika Kapolsek tidak mengindahkan keluhan warga, kami minta Pak Kapolres SITARO untuk mengevaluasi kinerja Kapolsek yang tidak peka dan tidak pro terhadap keluhan warga Tagulandang,” tegas mereka.
Hingga berita ini dipublikasikan, Kapolsek Tagulandang Iptu Rexi Misa belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dilakukan wartawan melalui pesan WhatsApp maupun telepon. Ketidakjelasan respons ini menambah kekecewaan warga yang berharap perlindungan dan pengawasan aktif dari kepolisian setempat di tengah krisis BBM yang berulang.
(RoMo)







