Dorong UMKM Naik Kelas, Bank Indonesia Pacu Digitalisasi Pertanian hingga Transaksi Non-Tunai di Sulawesi Utara

​MANADO,Barometersulut.com- Bank Indonesia terus memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui percepatan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Langkah strategis ini mencakup integrasi teknologi di sektor pertanian (digital farming), perluasan akses pasar, hingga optimalisasi ekosistem pembiayaan dan pembayaran digital.

​Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menegaskan pentingnya pemanfaatan inovasi teknologi agar pelaku usaha lokal memiliki daya saing tinggi.

Strategi digitalisasi BI berfokus pada tiga pilar utama: modernisasi pertanian (e-farming), pembukaan akses pasar secara daring (e-commerce), serta pencatatan keuangan digital (e-financing) menggunakan aplikasi SIAPIK.

​”Melalui penguatan talenta dan ekosistem inovasi yang terintegrasi, kami optimistis UMKM Indonesia mampu mengakselerasi pertumbuhan bisnisnya secara berkelanjutan,” ujar Filianingsih dalam forum Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta Convention Center.

​Dampak konkret transformasi ini sudah mulai dirasakan di wilayah Sulawesi Utara. Hingga pertengahan 2026, penerapan teknologi canggih seperti smart greenhouse dan drone sprayer telah mengondisikan efisiensi budidaya bagi kelompok tani terintegrasi.

​Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menambahkan bahwa keberhasilan digitalisasi ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor berbasis kearifan lokal.

“Semangat Mapalus atau gotong royong terus diusung guna memastikan seluruh rantai pasok ekonomi daerah siap menghadapi persaingan di era digital,” pungkasnya.

Berikut capaian Transformasi Digital UMKM Sulawesi Utara (2026):

• ​Sektor Pertanian Digital: Enam kelompok tani yang tergabung dalam program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) mengadopsi smart greenhouse dan drone sprayer untuk komoditas cabai (rica), bawang merah, dan padi guna menekan biaya produksi.

•​Integrasi Pasar & Pembiayaan: Lebih dari 150 UMKM binaan resmi terhubung ke ekosistem e-commerce nasional serta memanfaatkan SIAPIK untuk memperbesar peluang pengajuan kredit.

•Ekosistem Pembayaran (QRIS): Sebanyak 388 ribu merchant telah mengadopsi QRIS 95,36% di antaranya merupakan skala UMKM dengan akumulasi nilai transaksi mencapai Rp3,5 triliun.(nando adam)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari BAROMETER SULU di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *