Pendeta Dr. Arnold Apolos Abbas, S.Th., M.Th.: Sosok Humanis Di Pucuk Kepemimpinan Gereja Masehi Injili Talaud

Oleh: Iverdixon Tinungki

Malam di Tuna House Karangria, Manado, terasa teduh saat angin laut Pasifik berembus pelan. Di sisi meja, Pdt. Dr. Arnold Apolos Abbas melingkar bersama para intelektual, advokat, dan budayawan Nusa Utara.

Di sana, perbincangan tak sekadar melayang di awan-awan teologi transenden, tetapi menapak bumi—membicarakan jalan-jalan rusak di Kepulauan Talaud, kemiskinan warga perbatasan, hingga kedaulatan hukum di garda depan Republik.

Bagi Arnold Abbas, teologi bukanlah menara gading yang mengisolasi diri. Mengadopsi semangat double listening—mendengarkan Firman Tuhan sekaligus mendengarkan jerit penderitaan dunia—ia memegang Alkitab di tangan kanan dan surat kabar di tangan kiri.

Baginya, penginjilan dan aksi sosial adalah dua kepakan sayap yang tidak boleh dipisahkan.

Sebagai pimpinan tertinggi Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA), ia membuktikan bahwa menjadi hamba Tuhan berarti siap menjadi pelayan kemanusiaan: memanusiakan manusia di tanah perbatasan tanpa sekat.

Perjalanan Arnold Apolos Abbas adalah narasi keteguhan seorang anak pesisir. Lahir di Manado pada 24 Agustus 1967, langkah kecilnya bermula dari bangku SD dan SMP di Moronge, sebuah wilayah kepulauan di Talaud, sebelum menuntaskan SMA di Lirung.

Tempaan alam bahari dan kesederhanaan membentuk kepekaan sosialnya sejak dini, hingga ia memutuskan mengabdikan hidupnya mempelajari teologi di Fakultas Theologi UKIT Tomohon.
Ketekunannya menuntun Arnold merengkuh gelar Magister hingga Doktor Teologi.

Namun, ilmunya tak dibiarkan membeku di perpustakaan. Dari menjadi pengurus pemuda jemaat di Moronge, memimpin GAMKI Talaud, Sekretaris Umum hingga Ketua Umum GERMITA dua periode, langkahnya terus meluas.

Kini, kepemimpinannya menembus panggung nasional dan internasional—sebagai Ketua I BPH Gereja Protestan di Indonesia (GPI) di Jakarta, Anggota Majelis Lengkap PGI, hingga dipercaya menjadi Anggota Executive Committee M21 Asia di Hongkong.

Bagi warga Talaud, figur Dr. Arnold Abbas bukan sekadar pendeta yang berdiri di balik mimbar dengan jubah kudus. Ia adalah sosok yang kerap terlihat berada di garis depan, menggalang aksi sosial untuk menolong warga miskin dan mendorong pembukaan akses jalan yang rusak parah di pelosok pulau.

Saat bencana gempa bumi mengguncang Talaud, ia hadir memimpin GERMITA menanggulangi penderitaan korban.

Gigih memperjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat Nusa Utara—baik yang mendiami pulau-pulau terluar maupun mereka yang merantau di tanah diaspora—Arnold mewujudkan teologi praksis.

Lewat kiprahnya di FKUB, PIKI, hingga konsultasi kedamaian internasional di Chiang Mai, Thailand, ia menegaskan bahwa keadilan dan kesetaraan hak adalah wujud nyata dari kebenaran Injil yang dihidupi.

Di sela-sela kesibukan gerejawi yang padat, Dr. Arnold Apolos Abbas adalah seorang pemikir yang produktif menumpahkan gagasannya lewat tulisan.

Sejak masa keremajaannya di kampus, artikel-artikelnya menghiasi majalah dan koran lokal hingga nasional, membedah topik-topik krusial seperti etika global, pembangunan Talaud, hingga peran gereja di era globalisasi.

Puncak pergumulan akademisnya terukir dalam riset riset doktornya bertajuk “Rerro Henggona dan Injil: Studi Perjumpaan Religi Suku Talaud dan Kekristenan di Bibir Pasifik”.

Lewat karya ini, ia memotret bagaimana iman Kristen menyapa, merengkuh, dan berdialog secara halus dengan akar budaya lokal suku Talaud.

Ia membuktikan bahwa teologi kontekstual tidak merusak kearifan lokal, melainkan mengangkat martabat budaya sebagai wadah perjumpaan yang inklusif dan transformatif.

Garis perbatasan bukan sekadar batas peta, melainkan benteng pertahanan ideologi dan kebudayaan bangsa. Pemikiran inilah yang terus dihembuskan Dr. Arnold Abbas bersama para tokoh Nusa Utara, seperti advokat senior Dr. Santrawan Paparang dan Rimata Narande dan Pitres Sombowadile, di Tuna House malam itu.

Dalam berbagai ruang diskusi lintas disiplin, mereka memperjuangkan penguatan masyarakat Nusa Utara dari aspek hukum, ekonomi, pendidikan, hingga keagamaan.

Sebagai Ketua FKUB Talaud dan pimpinan gereja perbatasan, Arnold paham betul posisi strategis Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai pintu gerbang Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.

Mendorong kepemimpinan daerah dan nasional yang berakar pada semangat nasionalisme radikal adalah cara Arnold memastikan bahwa beranda utara NKRI tidak pernah dikesampingkan atau dilupakan.

Di balik nama besar, deretan gelar akademis, dan agenda oikumene yang membentang dari Jakarta hingga Hongkong, Arnold Apolos Abbas tetaplah seorang suami dan ayah yang hangat.

Didampingi sang istri tercinta, Merry Christine Supit, S.Th., M.Pd., serta putra mereka, Joseph Natanael Toar Abbas, rumah tangga mereka menjadi fondasi utama dalam memancarkan keteladanan.

Kesederhanaan yang dibentuk dari pesisir Moronge tak pernah pudar dari kesehariannya. Baik saat berdiskusi santai di kedai kopi, mendengarkan keluh kesah jemaat di desa-desa terpencil, maupun bercengkerama dengan para sahabat lintas profesi, kehangatan humanisnya selalu terasa.

Bagi Arnold Abbas, panggilan tertinggi seorang hamba bukanlah seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar kasih yang sanggup dibagikan kepada sesama. (*)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari BAROMETER SULU di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *