MANADO, Barometersulut.com- Menguasai laju inflasi daerah tidak cukup hanya dengan pemantauan di atas kertas. Di tengah tekanan harga komoditas pokok yang melampaui sasaran nasional, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara bersama Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Pemda Kota Manado, Perum BULOG SulutGo, dan Satgas Pangan Prov.
Sulut mengambil langkah konkrit melalui penggelaran Sinergi Pasar Murah 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-73 Bank Indonesia.
Langkah intervensi pasar jangka pendek ini dieksekusi secara terukur guna menahan laju inflasi bulanan Sulawesi Utara yang pada Juni 2026 menembus angka 2,12% (mtm) dan 4,48% secara tahun berjalan (ytd). Capaian angka tersebut telah melampaui batas sasaran inflasi nasional di level 2,5% ± 1%.
Gejolak harga terutama dipicu oleh terganggunya pasokan serta jalur distribusi komoditas utama seperti cabai rawit, bawang merah, dan beras.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menegaskan bahwa penanganan gejolak harga pangan harus menyasar langsung kebutuhan dasar masyarakat.
”Kenaikan harga bulanan pada Juni lalu dipicu oleh komoditas cabai rawit, bawang merah, dan beras akibat terganggunya pasokan dan distribusi. Oleh karena itu, pengendalian inflasi menjadi sangat krusial, terutama dalam memastikan masyarakat memperoleh akses pasar murah dengan harga terjangkau. Sinergi Pasar Murah ini merupakan instrumen jangka pendek untuk memperkuat keterjangkauan harga, sekaligus membuktikan bahwa pengendalian inflasi memerlukan orkestrasi kebijakan yang menyeluruh,” ujar JokoSupratikto saat membuka kegiatan.
Pentingnya koordinasi lintas instansi ini turut diamini oleh pihak pemerintah daerah. Membuka jalur sinergi tersebut, Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili Asisten II Sekretaris Daerah Provinsi Sulut, Jemy Ringkuangan, AP, M.Si., menyatakan bahwa kehadiran BI bersama jajaran Pemda merupakan manifestasi negara dalam menjaga daya beli warga.
”Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Sinergi Pasar Murah ini. Ini hadir sebagai bukti nyata Pemda dan BI hadir untuk memastikan kebutuhan pangan dapat diakses dengan mudah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Sinergi dan kolaborasi yang terjalin tidak boleh berhenti di pasar murah saja, tetapi harus berlanjut pada berbagai program strategis lain yang memberi manfaat langsung bagi publik,” tutur Jemy Ringkuangan.
Lebih lanjut, Jemy menjabarkan bahwa perekonomian Sulawesi Utara ke depan harus ditopang melalui lima pijakan strategis, yakni penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), perluasan digitalisasi sistem pembayaran, akselerasi UMKM agar berdaya saing global, pemenuhan ketersediaan uang layak edar hingga ke kawasan kepulauan terluar, serta optimalisasi sektor-sektor ekonomi unggulan daerah.
Tak sekadar menjual pangan murah, perhelatan ini dikemas secara modern melalui inklusi keuangan digital. Pembukaan acara ditandai dengan pemindaian QRIS bernominal unik Rp73 menandai usia ulang tahun BI yang memberikan hak kepada masyarakat untuk memperoleh voucher potongan harga sebesar Rp5.000. Strategi stimulasi ini berhasil menarik antusiasme publik, terbukti dengan terserapnya 760 voucher belanja hingga penutupan kegiatan.
Guna menopang kebutuhan warga, pasokan komoditas yang digelontorkan mencakup 1,5 ton beras, 100 kilogram cabai rawit, 100 kilogram cabai merah keriting, 100 kilogram tomat, 100 kilogram bawang merah, serta 50 kilogram bawang putih. Selain itu, disalurkan pula 20 dus minyak goreng, 200 kilogram gula pasir, 150 baki telur ayam, 100 ekor ayam segar, serta komoditas buah dan sayuran seperti 50 kilogram melon, 100 kilogram semangka, terong, dan aneka sayur-mayur.
Melengkapi intervensi pasokan pangan, Bank Indonesia turut menghadirkan layanan penukaran uang Kas Keliling serta sosialisasi edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
Langkah terpadu ini dihadiri langsung oleh sejumlah pimpinan instansi strategis, antara lain Walikota Manado Andrei Angouw, Pemimpin Wilayah Perum BULOG SulutGo Ermin Tora, Kepala BPS Dr. Watekhi, Kepala Biro Perekonomian Prov. Sulut Reza Dotulung, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Rahel Ruth Rotinsulu, Kepala Dinas Perindag Drs. Hendrik Rueben Tendean, serta perwakilan Satgas Pangan Polda Sulut Ipda Donny. (***)







