Bupati Sangihe Dorong Pendidikan Inklusi Lewat Bimtek untuk Guru SD dan SMP

Tahuna, BAROMETERSULUT.com— Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe menegaskan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan merata bagi seluruh anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus (ABK).

Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Inklusi Jenjang PAUD, SD, dan SMP di Tahuna Beach Hotel, Senin (7/7).

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sangihe ini diikuti para kepala sekolah dan guru dari jenjang dasar hingga menengah pertama.

Dalam sambutannya, Thungari menegaskan pentingnya pendidikan inklusi sebagai bentuk keadilan sosial.

Ia menyebut bahwa pendidikan tidak boleh meminggirkan kelompok manapun, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) serta mereka yang tinggal di wilayah kepulauan.

“Pendidikan inklusi berarti pendidikan untuk semua, tanpa terkecuali. Anak-anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan perhatian dan layanan pendidikan yang layak, sebagaimana anak-anak lainnya,” ujar Thungari.

Bupati juga menyoroti kondisi literasi di beberapa wilayah kepulauan yang menurutnya masih memprihatinkan.

Ia mengungkapkan, dalam beberapa kunjungannya ke wilayah kepulauan, masih ditemui siswa kelas satu dan dua yang belum mampu membaca.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Jangan sampai kekurangan tenaga pengajar di pulau-pulau membuat kualitas pendidikan terabaikan. Saya minta agar para guru yang sudah ditugaskan di wilayah tersebut tetap komitmen dan tidak berlomba-lomba minta pindah ke kota,” tegasnya.

Lebih lanjut, Thungari menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi sangat bergantung pada para pendidik sebagai garda terdepan.

Ia mendorong para guru untuk memiliki sikap empati dan kreatif dalam menghadapi beragam karakter siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Model pembelajaran kini harus adaptif, kreatif, dan penuh empati. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi perkembangan emosional dan sosial anak,” ucapnya.

Bupati juga mengajak sekolah-sekolah untuk memperkuat kerja sama dengan orang tua dan masyarakat.

Ia menyoroti pentingnya waktu belajar yang lebih panjang seperti yang diterapkan oleh beberapa sekolah swasta, yang menurutnya mampu memberikan lingkungan yang lebih aman dan produktif bagi siswa.

“Banyak orang tua merasa lebih nyaman jika anak mereka pulang sore, karena selain waktu belajar lebih optimal, anak-anak juga terhindar dari pengaruh lingkungan negatif,” katanya.

Thungari menambahkan, setiap sekolah perlu menjadi ruang yang ramah anak, termasuk bagi siswa yang mengalami kesulitan fisik, emosional, maupun sosial.

Dirinya menyinggung fenomena perundungan (bullying) yang masih kerap terjadi dan meminta para guru untuk lebih aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif.

“Perlakuan guru dan teman sebaya sangat berpengaruh pada kenyamanan dan perkembangan mental anak. Jika tidak dipantau, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang salah arah,” imbuhnya.

Di akhir sambutan, Bupati menegaskan komitmen Pemkab Sangihe dalam mendukung penguatan sistem pendidikan inklusi. Dukungan itu, katanya, akan diberikan melalui regulasi, program berkelanjutan, dan penguatan kapasitas kelembagaan pendidikan.

“Kami akan terus mendorong hadirnya pendidikan yang berpihak kepada semua anak, di mana pun mereka berada,” tutupnya.

(Advertorial)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari BAROMETER SULU di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *