MANADO, Barometersulut.com- Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang tangguh di angka 5,42% (yoy) pada triwulan II-2026 menjadi modal berharga menatap arah bisnis mendatang. Namun, tantangan inflasi yang merayap hingga 3,68% (ytd) sampai Agustus menuntut kewaspadaan ekstra dari para pemangku kebijakan dan pelaku usaha di daerah.
Potret terkini perekonomian Nyiur Melambai tersebut mengemuka dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Periode Agustus 2026 yang dirangkaikan dengan Temu Responden 2026 di Manado, Rabu (16/9/2026).
Forum berbobot bertajuk “Bincang Ekonomi: Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara” ini digagas oleh Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara.
Tak tanggung-tanggung, forum tersebut menghadirkan dua figur pemikir ekonomi papan atas: Menteri BUMN periode 2011–2014 yang juga tokoh pebisnis nasional, Dahlan Iskan, serta Chief Economist BCA Group, David Sumual.
Kepala Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto, mengungkapkan bahwa indikator pembiayaan di Sulut sejauh ini masih terakselerasi dengan sehat. Per Juli 2026, fungsi intermediasi perbankan tercatat tumbuh positif—kredit naik 3,08% (yoy) dan Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 8,08% (yoy). Rasio kredit bermasalah (NPL) pun terjaga aman di kisaran 2,77%.
”Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang yang meningkat signifikan pada Triwulan III-2026. Ini sinyal kuat bahwa aktivitas usaha di lapangan sedang berekspansi,” ujar Joko.
Meski demikian, Joko menggarisbawahi perlunya sinergi ketat untuk menjamin kelancaran rantai pasok barang kebutuhan pokok agar laju inflasi daerah tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5% ± 1%.
Peluang di Tengah Ketidakpastian Global
Membedah peta makro, Chief Economist BCA Group, David Sumual, memaparkan bahwa ancaman disrupsi rantai pasok global, suku bunga, hingga laju teknologi Artificial Intelligence (AI) masih menjadi tantangan bersama. Namun, kawasan timur Indonesia—khususnya Sulawesi Utara—punya daya tawar tersendiri.
David menilai, hadirnya KEK Likupang, potensi energi hijau dari PLTP Lahendong, hingga rencana Kawasan Industri Mongondow adalah magnet investasi masa depan. Kuncinya ada pada optimalisasi konektivitas udara langsung dari Asia Timur serta penguatan rantai industri pengolahan komoditas lokal.
Sementara itu, Dahlan Iskan memberikan suntikan motivasi lugas bagi ratusan pelaku usaha yang hadir. Menurutnya, komoditas unggulan Sulut seperti kelapa olahan, hasil perikanan, pala, dan cengkeh memiliki ceruk pasar ekspor yang sangat masif, terutama di Tiongkok.
”Pengusaha daerah harus berani berinovasi, memperbesar kapasitas produksi, dan disiplin dalam manajemen keuangan. Manfaatkan keberadaan Pelabuhan Bitung sebagai direct call hub agar produk Sulut bisa makin lincah menembus pasar internasional,” tegas Dahlan.
Agenda tahunan yang dihadiri jajaran kepala daerah, pimpinan instansi vertikal, perbankan, serta pelaku usaha ini diharapkan BI Sulut menjadi pijakan data yang presisi dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (***)







