Ajang Pemilihan Putra-Putri SMABIT Hancurkan Mental Salah Satu Peserta

BITUNG,Barometersulut.com – Pemilihan putra putri SMA Negeri 2 Bitung (SMABIT), yang digelar pada hari Sabtu (18/04/2026) yang berlokasi di lapangan SMABIT menuai kritikan dari salah satu orang tua peserta yang mengikuti ajang tersebut.

Bacaan Lainnya

Kritikan keluar dari salah satu orang tua peserta (Opa/Kakek) bernama Drs. Alfianus Marthin yang cucunya bernama Chinera Putri Yulica Korban, mengaku tidak puas dengan keputusan dari panitia maupun tim penilai atau juri,

 

“Kami merasa ada kejanggalan kepada panitia atau tim juri, dimana cucu saya itu bisa menjawab pertanyaan tidak bisa masuk dalam lima besar. Justru yang diam dan tidak menjawab atau hanya terdiam malahan masuk dalam lima besar,” ujar Alfianus, mantan Kepala Sekolah SMABIT Tahun 2002-2006.

 

Bukan cuma cucu saya yang dirugikan, tapi ada peserta lain juga yang dirugikan dalam kegiatan tersebut,

 

“Bukan cuma cucu saya yang merasa dirugikan ada juga anak lain yang Aura serta kwalitas sudah terlihat begitu nampak namun tidak masuk dalam 5 besar,” tukasnya.

 

Kami selaku orang tua, ingin tahu pasti kriteria dalam penilaian pemilihan putra putri SMABIT tersebut,

 

“Kami menduga ada KKN dalam penilaian, panitia diduga hanya menilai dari segi kedekatan peserta dengan panitia atau juri dibandingkan dengan kwalitas serta kwantitas dari para peserta,” katanya.

 

Selain dari itu, kecurigaan kami pada saat pembacaan nama-nama peserta yang masuk dalam posisi 5 besar,

 

“Pada saat pembacaan peserta yang akan masuk pada lima besar, Chinera Putri Yulica Korban dengan nomor peserta 6, sudah dibaca. Nera panggilan sehari-hari dari cucu saya sudah sangat senang dan bersiap untuk maju, namun alhasil bukan namanya yang disebut melainkan nama peserta lain. Ini yang menjadi kecurigaan besar kami, diduga kuat para panitia sudah ada Kong kali Kong,” imbuhnya.

 

Terlihat di Vidio yang ditunjukkan oleh Indah Marthin keluarga dari Nera, pada saat nomor punggung 6 dibaca Nera sudah maju namun sayang bukan namanya yang disebut.

 

“Nah ini juga salah satu perbuatan yang menghancurkan mental dari seorang anak, bagaimana tidak dia kecewa serta malu, Nera sudah maju saat nomor punggungnya dibacakan, dan nama peserta disebutkan sekitar hampir 30 detik terdiam,” ujar Indah Marthin.

 

Kami berharap pihak panitia dan juri bisa memberikan klarifikasi atau penjelasan terkait penilaiannya seperti apa dalam ajang tersebut,

 

“Kami pihak keluarga berharap ada penjelasan dari pihak panitia dan tim juri soal kriteria penilaian, jangan sampai penilaiannya dilihat dari segi keluarga, kerabat atau titipan bukan dari segi kualitas atau kwantitas dari peserta,” harap Indah.

 

Lanjutnya, “Dari informasi yang mengganti nama ponakan saya itu tidak ikut presentasi, resensi dan jarang hadir saat latihan, itu adalah salah satu penilaian yang tinggi. Seharusnya sebelum babak grand finalis anak itu sudah tidak bisa ikut,” tutupnya.

 

(RoMo)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari BAROMETER SULU di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *