Bapenas Sebut Kabupaten Minahasa Utara Capai Angka Ketahanan Pangan Tertinggi Se-Sulut

Minut, BAROMETERSULUT.com – Badan Pangan Nasional atau Bapanas merilis data ketahanan pangan terbaru bagi 15 Kabupaten dan Kota di Sulawesi Utara (Sulut).

Berdasarkan data Bapanas per Juni 2023 atas hasil survei tahun 2021, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) yang dipimpin Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin Lotulung, mencatat skor ketahanan pangan tertinggi di Provinsi Sulut.

Disebutkan Minut meraih skor 83,69, unggul atas Kabupaten Minahasa dengan skor 83,30 dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) dengan skor 83,26.

Sementara skor terendah tercatat pada Kepulauan Sangihe (56,15), Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (52,61).

Kepada media ini Bupati Minut Joune Ganda membenarkan release data pihak Bapenas itu “Data tersebut memang benar sesuai yang disampaikan kepada kami.Capaian ini merupakan prestasi dan kinerja semua jajaran terkait.”kata Bupati Joune Ganda, Senin(19/6).

Baca juga:  Raihan Lima Kategori, PKK Bitung Juara Umum Tingkat Provinsi

Mengacuh UU No. 18 Tahun 2012, ketahanan pangan adalah syarat terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang mencerminkan dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, berkhasiat, merata, dan terjangkau, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Bukan tanpa alasan, dalam menetapkan angka, Bapanas mengukur indeks ketahanan pangan di kabupaten-kabupaten Indonesia berdasarkan 9 indikator utama meliputi:

1.Normative Consumption Production Ratio (NCPR) atau rasio konsumsi normatif per kapita terhadap produksi bersih beras, jagung, ubi jalar, dan ubi kayu, serta stok beras pemerintah daerah.

2. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan;

3. Persentase rumah tangga dengan proporsi Pengeluaran untuk pangan >65% terhadap total pengeluaran;

Baca juga:  Jajaran Korem 132/Tadulako-Polda Sulteng "Gowes Bareng"

4 Persentase rumah tangga tanpa akses listrik;

5. Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih;

6. Angka harapan hidup pada saat lahir;

7. Rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap tingkat kepadatan penduduk;

8 .Rata-rata lama sekolah perempuan di atas 15 tahun; dan

9. Persentase balita dengan badan tinggi di bawah standar (stunting).
Kesembilan indikator ini kemudian diolah menjadi skor berkarakter 0-100.

Semakin tinggi skornya, ketahanan pangan suatu daerah diasumsikan semakin baik.
Skor tinggi ini karena beberapa faktor, salah satunya distribusi air bersih yang tergolong sangat baik.

Pada tahun 2021, proporsi rumah tangga tanpa akses air bersih di Minahasa Utara hanya 11,75%, sedangkan di kabupaten-kabupaten tetangganya berkisar antara 19% sampai 54%.(*/nando)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *